Aku sudah mencarinya ke berbagai tempat. Teganya dia meninggalkanku. Padahal, sepenuh hati aku menjaganya sejak pertama kami saling memiliki.
"Bayu..." aku mengintip ke kolong sofa. Gelap sekali. Kuayunkan gagang sapu kesana – tidak ada apa-apa.
"Bayu..." aku tidak menemukannya di bawah tudung saji. Begitu pula di dalam lemari es, juga di dalam guci-guci keramik ibu.
"Kakak!" panggilku saat mendapati kakakku bermalas-malasan di depan tv. "Bayu mana?"
"Nggak tahu." Jawabnya singkat.
"Aku tahu." Aku menatapnya tajam.
"Apa?"
"Kakak dendam sama Bayu kan? Sekarang mana Bayu?"
"Buat apa dendam sama kucing?"
"Karena... karena kucingku namanya Bayu. Kakak marah kan? Iya kan? Iya kan?!"
"Memang marah, tapi bukan sama kucing itu."
"Marah sama kamu." Ia berdiri. "Yang ngasih nama kucing itu kan kamu." Kak Bayu menjentikkan jarinya ke dahiku. Aku menggosok-gosok dahiku meski tidak sakit. Lalu melengos pergi dengan bibir mengerucut.
Semenjak masuk Sekolah Menengah Atas 2 tahun lalu, kakak jadi jarang menemaniku bermain. Aku membeli kucing agar tidak kesepian di rumah. Tapi sekarang kucing itu menghilang.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman. Lalu kudapati Bayu – kucingku, bukan kakakku – melompat masuk lewat sela pagar. Kucing itu meregangkan tubuhnya dan berjalan kearahku.
Bayu menghilang lagi. Sudah tiga hari dan aku sudah menyerah. Aku tidak menemukannya dimanapun. Aku menyandarkan kepala ke kusen jendela dan memandang jauh ke suatu tempat – yang aku sendiri tidak tahu tepatnya.
Seseorang berjalan di luar pagar. Dia seperti janda tua tetangga kami. Ibu Prawiro? Dan dia membawa seekor kucing. Astaga!
Bukan, kucing itu bukan Bayu-ku. Bu Prawiro masuk ke pekaranagan kami dan mencak-mencak. Ibu segera menghampiri Bu Prawiro.
Ibu mengatakan sesuatau yang tidak bias kudengar.
“KUCINGMU ITU! SI BAYU ITU! MENGHAMILI SAMANTHA-KU. LIHAT DIA MELEMBUNG BEGINI!” Bu Prawiro mengangkat kucingnya. “SAMANTHA ITU KUCING BERSERTIFIKAT! KETURUNAN KUCING KERAJAAN! TAPI TRAH-NYA SUDAH DI KOTORI OLEH KUCINGMU ITU!!!”
Benar-benar kucing tidak bertanggung jawab. Aku akan menggantungnya – secara terbalik – jika dia pulang. Tapi aku tetap tidak mau berbesan dengan Bu Prawiro. Aku bergidik.
Kak Bayu sedari tadi duduk disampingku. Meringis mendengar namanya disebut-sebut – dengan amat sangat tidak terhormat. Kakakku yang malang.
Akhirnya Samantha melahirkan tiga ekor anak kucing. Dua ekor kucing betina dan seekor kucing jantan. Bayu masih belum pulang, aku tidak tahu kemana ia pergi. Mungkin dia diculik oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab dari pabrik makanan kucing. Dijadikan bahan percobaan, keracunan, sekarat di tong sampah, tragis. Ibu telah berjanji pada Bu Prawiro untuk mengurus anak-anak kucing Samantha. Aku tidak keberatan jika harus merawat tiga ekor kucing, tapi Ibu tidak memperbolehkanku. Dua ekor kucing diberikan pada sepupu jauhku. Aku memilih satu-satunya kucing jantan, aku tidak bisa memberi nama Bayu pada kucing Betina kan? Aku tidak peduli jika kakakku marah-marah, salah sendiri. Lagi pula aku tidak mau kucingku menjadi janda seperti Samantha, seperti Ibu Prawiro.
“Bayu…” aku mengintip ke kolong sofa. Dimana dia? O’oh, jangan lagi.
#Ini satu potongan cerita dari novelku – yang sejak setahun lalu belum selesai. Tahu kan? Yang judulnya Bougainville itu. Sebenarnya bagian ini mau kubuang, tapi sayang. Akhirnya setelah diamplas sana-sini, jadilah cerpen ini. hohoho... :p


0 komentar:
Posting Komentar